Reses di Desa Sakita, Anwar Hafid Siap Kawal Masalah Pertanahan

0
85

PosoNews.id, Morowali- Anggota DPR RI Komisi II asal Partai Demokrat, Anwar Hafid melakukan reses di Desa Sakita, Kecamatan Bungku Tengah, Kabupaten Morowali pada Selasa Malam (21/12/2021).

Dalam reses kali ini, ada yang istimewa, dimana Anwar Hafid didampingi oleh mantan Wakil Bupati Morowali periode 2007-2018, Sumisi Umi Marunduh, dimana pada saat itu Anwar Hafid adalah Bupatinya.

Ratusan warga Desa Sakita menghadiri acara itu, karena memang diketahui, saat Pilkada Morowali, pasangan Anwar-Sumisi meraih suara terbesar di desa tersebut dan merupakan kenangan terindah pada masanya.

Anwar Hafid dalam sambutannya menyampaikan bahwa tugasnya di Komisi II adalah berkaitan dengan masalah agraria/pertanahan, kepegawaian, dan pemilu, serta pengawasan terhadap KPU dan Bawaslu.

Salah seorang warga Desa Sakita dalam sesi tanya jawab mengatakan, sebagian besar warga desanya bermata pencaharian sebagai petani, akan tetapi banyak lahan perkebunan warga masih masuk dalam kawasan hutan lindung. “Sebagian besar warga di Desa Sakita ini adalah bermata pencaharian petani, tetapi sampai saat ini masih banyak lahan perkebunan kami masuk dalam kawasan hutan lindung, olehnya itu kami memohon agar diberikan solusi atas permasalahan ini,” katanya.

Menanggapi hal itu, Anwar Hafid mengatakan siap mengawal dan melakukan cross cek di ATR-BPN Pusat. “Insya Allah, secepatnya saya akan koordinasi dengan ATR-BPN Pusat mengenai hal ini, karena ada program TORA, dimana meskipun lahan perkebunan warga itu masuk dalam kawasan hutan lindung, akan tetap diberikan alas hak, namun tentunya harus dibuktikan dengan adanya tanaman,” ungkapnya.

Terkait masalah sertifikat prona/PTSL yang sampai saat ini belum semua terakomodir dan perbedaan ukuran luasan lahan dalam sertifikat, Anwar menjelaskan, memang belum semua terakomodir karena program Presiden 1 juta sertifikat masih akan terus berlanjut hingga tahun 2024.

Mewakili Karang Taruna Sampalaa Desa Sakita, Mirwan menanyakan tentang batasan usia pada seleksi penerimaan ASN. “Dalam penyelenggaraan seleksi ASN beberapa tahun ini boleh dikatakan murni, akan tetapi ada batasan umur dimana peserta yang sudah berusia 35 tahun tidak bisa lagi ikut, padahal ada yang sudah mengabdi selama 15 hingga 30 tahun namun tidak bisa ikut seleksi karena terkendala umur, maka dari itu kami meminta agar ada regulasi atau kebijakan terhadap usia diatas 35 tahun, yang sudah lama mengabdi khususnya guru dan tenaga kesehatan” urainya.

Terkait pertanyaan itu, Anwar Hafid mengungkapkan, kedepan ada wacana tidak akan ada lagi penerimaan ASN, namun hanya P3K atau tenaga kontrak. Selanjutnya ada opsi bahwa penerimaan ASN nantinya akan dipilih orang-orang yang otaknya luar biasa, menguasai IT karena akan ada digitalisasi ASN.

Warga lainnya yang juga berkesempatan menyampaikan pertanyaan, meminta agar Anwar Hafid bisa membantu pengadaan kain kafan dan alat musik rebana, dan permintaan tersebut langsung disetujui olehnya. “Mulai saat ini, kalau ada orang meninggal di Sakita ini, saya yang tanggung kain kafannya, nanti minta tolong Pak Kades ingatkan saya, Insya Allah rebana juga akan saya kirim nanti dari Jakarta,” jelasnya.

Di akhir acara, Anwar Hafid dan Sumisi Umi Marunduh berduet membawakan lagu andalan selama kepemimpinan AS dua periode, berjudul “Bintang” dari group musik Anima. (DRM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here