Buntut Penjelasan Bupati Morowali di Media Massa, Tokoh Pemuda Angkat Bicara

0
126
Foto: Azis Kabaratta

MOROWALI, POSONEWS – Belum lama ini Bupati Morowali, Taslim sempat diwawancara oleh salah satu stasiun tv tentang kondisi Morowali saat ini.

Sejumlah penjelasannya terkait soal pendidikan gratis, kesehatan gratis dan indeks pertumbuhan ekonomi mendapatkan tanggapan dari beberapa pihak. Salah satunya adalah Azis Kabaratta, selaku Bakomstra DPC Partai Demokrat Kabupaten Morowali.

Ia mengatakan, apa yang dijelaskan oleh Bupati Taslim tak lain adalah lanjutan dari program Anwar Hafid-Sumisi Umi Marunduh (AS) selama dua periode yang tak boleh dilupakan dan harus diakui.

“Saya sangat mengapresiasi apa yang disampaiakan Bapak Bupati Taslim dalam wawancara ekslusif tersebut. Tadinya saya berharap ada penyampaian progres capaian dan target capaian Morowali Sejahtera Bersama selama 3 tahun kepemimpinan TAHAJUD setelah memberikan laporan data indeks pembangunan, usia harapan hidup, dan angka kemiskinan yang jauh dari ideal 18 tahun lalu, program unggulan yang disampaikan yakni Bantuan Pendidikan Mahasiswa Morowali, Kesehatan Gratis, Honor Guru non PNS, insentif Guru Mengaji, itu adalah program lanjutan pemerintahan sebelumnya,” ungkap Azis kepada media ini, Senin (7/6/2021).

Dikatakannya, dalam wawancara itu Bupati Taslim tidak menyebutkan program unggulan yang menjadi janji pada kampanye politik TAHAJUD yakni Rp200 juta per desa, tidak ada penyampaian seperti apa dan sejauh mana capaian dan dampak terhadap masyarakat atas program tersebut.

“Olehnya itu, saya berpendapat bahwa terlalu naif jika usia kepemimpinan TAHAJUD 3 tahun sudah kita mengklaim berhasil,” kata Azis.

Dijelaskan Azis, pada masa pemerintahan sebelumnya, ada yang membanggakan karena tanpa PAD yang besar seperti sekarang ini bisa menggratiskan sekolah mulai dari TK sampai dengan SMA. Bisa membantu semua mahasiswa tanpa kategori tertentu. Bisa membantu guru satu laptop satu guru. Bisa menggaji guru honor sampai SLTA. Bisa memberikan tunjangan kinerja semua ASN saat belum ada daerah di Sulteng memberikan tunjangan kinerja ke pegawainya.

Selain itu kata Azis, pada masa itu juga Pemerintah Daerah telah menggaji para Guru Mengaji, Guru Sekolah Minggu dan Mangku. Padahal saat itu Morowali dan Morowali Utara masih belum berpisah.

“Masa pemerintahan Anwar-Sumisi juga bisa memberi honor semua Muazzin, menggratiskan raskin bagi seluruh penduduk miskin saat Morut belum mekar, bisa membantu rumah Aladin bagi masyarakat di dua kabupaten, bisa bagi-bagi bibit sawit gratis kepada masyarakat petani di dua kabupaten, bisa bagi-bagi hand traktor kepada petani. Membantu PLN dari 6 jam sampai 24 jam menyala dengan bantuan mesin dan jaringan listrik dari APBD di dua kabupaten yakni mencakup Kecamatan Bungku Utara dan Mamosalato, Bahodopi, Bungku Pesisir, Bungku Selatan, Menui Kepulauan, Bumi Raya dan Witaponda. Bisa membangun lampu jalan di Kota Bungku yang fantastis, bisa membuka jalan di Menui Kepulauan sehingga mobil bisa hadir di sana, membangun jembatan Paku yang fantastis, menyediakan tanah untuk Kota Terpadu Mandiri (KTM), membantu SPP mahasiswa kedokteran, menggratiskan pengobatan rakyat Morowali dan Morut saat itu tanpa kategori untuk berobat di kelas III di seluruh Indonesia hanya bermodalkan KTP. Bisa menyekolahkan  guru-guru sehingga bisa menjadi sarjana, membangun kampus Universitas Negeri di Morowali, mendatangkan dokter ahli dengan insentif APBD, dan masih banyak lagi,” urainya.

Selain itu kata Azis, bahwa kemajuan Morowali hari ini adalah sebagai hasil investasi sejak masa pemerintahan sebelumnya, yaitu Tato Masitudju, Andi Muhammad, Datlin Tamalagi, dan Anwar Sumisi. Belum ada investasi baru.

“Dulu memang belum ada PAD sebesar seperti sekarang karena masih berproses, ibarat tanam pohon baru berbunga. Sekarang ini baru berbuah dan tinggal petik. Ada juga bantuan alat tangkap untuk para nelayan, bahkan pernah menjadikan Morowali penghasil rumput laut terbesar di Sulteng, asrama mahasiwa dibangun di beberapa daerah, merubah wajah Kota Bungku, membantu pemerintah pusat membangun bandara, menyekolahkan beberapa dokter ahli, menggaji pegawai syara’, membantu rumah-rumah ibadah di dua kabupaten, menghadirkan PLTA di Desa Sakita Kecamatan Bungku Tengah dan Desa Wawopada Morut, sekarang Morut bisa membantu masysrakat lewat kebijakan pertambangan sehingga rumah-rumah masyarakat di area tambang berubah dari rumah gubuk menjadi rumah batu permanen. Menyulap kompleks Fonuasingko dari alang-alang menjadi kota baru seperti yang bisa dilihat saat ini, membangun jalur dua terpanjang, mengangkat ribuan tenaga penyapu jalan, membangun pasar modern hampir di semua kecamatan, memberikan bantuan kendaraan roda dua bagi tenaga penyuluh, serta membantu rakyat untuk cetak sawah dan cetak tambak,” beber Azis Kabaratta.

Terpisah, mantan Bupati Morowali 2 periode, Anwar Hafid yang kini menjadi anggota DPR-RI mengatakan, yang bisa menilai adalah masyarakat Morowali sendiri dan jika pun ada kekurangan, itu sangat wajar karena tidak ada pemerintahan yang sempurna.

“Saya hanya berupaya memberikan yang terbaik untuk masyarakat Morowali, biarlah rakyat Morowali sendiri yang menilai, kalau masih ada kekurangan saya memohon maaf dan semuanya saya serahkan kepada Allah SWT,” tandasnya. BMG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here