PosoNews.id, Poso- Salah seorang mantan Narapidana Terorisme (Napiter), JMD alias AD yang sudah sadar dan bertaubat itu mengaku, dulunya Dia belajar jihad fi sabilillah hingga diarahkan untuk menjadi mujahid yang cenderung keliru.
Hal itu diungkapkanya kepada personil Kepolisian Polres Poso, Sabtu (24/4/2021).
“Saya sebut keliru, karena jihad ini bukan jihad yang dikehendaki oleh Agama Islam, akan tetapi jihad yang dilaknat oleh Islam. Yaitu terorisme,” ungkapnya.
Aksi mendukung Pok MIT di wilayah Kecamatan Poso Pesisir Bersaudara yang dilakukan AD akhirnya mengantarkannya menjadi tahanan di Lapas Kelas II A Bulukumba pada tahun 2018 silam.
Di Lapas, Dia merenungi apa yang telah diperbuatnya selama itu. Sehingga, sampai pada satu titik Dia tersadar sehingga membuat hatinya tenang dan berdamai dengan takdir.
AD teringat waktu di Lapas Dia dipertemukan dengan beberapa tahanan yang memiliki kasus yang sama.
“Ada sekitar tiga orang yang ditahan karena kasus terorisme. Ketika itu saya menyadari kesalahan yang telah saya perbuat, saya ikut kasihan melihat orang-orang yang dibutakan hatinya dengan paham teroris,” tukasnya.
Akhirnya, berkat refleksi dan mengingat kembali keluarga, isteri dan anak di rumah, AD sadar dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan yang sama. Baginya, aksi teroris adalah dosa besar.
Bebas dari Lapas, AD kembali ke kampung halamanya di tana Poso. Disitu Dia berbaur bersama masyarakat, bekerja keras mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.
Dia berharap anak-anaknya tidak menjadi seperti dirinya yang terjebak dalam lingkaran paham terorisme.
“Saya bersikeras untuk menyekolahkan anak anak saya, sehingga mereka dapat menimba ilmu agama dengan benar. Karena, orang yang ilmu agamanya mapan tidak bakal terpengaruh dengan paham radikal berwajah terorisme. Hanya orang awam dan tidak paham agama yang gampang melakukan aksi teror,” tandasnya.(*)





