POSONEWS.ID – Hari Tani: Ketika Perempuan Berbicara tentang Tanah, Pangan, dan Masa Depan
Ketika kita berbicara tentang petani, bayangan yang muncul sering kali adalah laki-laki yang bekerja di sawah, kebun, atau ladang. Padahal, di balik aktivitas pertanian terdapat begitu banyak perempuan yang ikut bekerja: menanam, merawat tanaman, memanen, mengolah hasil pertanian, menjual hasil produksi, mengurus kebutuhan keluarga, sekaligus memastikan kehidupan rumah tangga tetap berjalan.
Hal itu kerap dianggap sebagai bagian dari pekerjaan rumah tangga atau sekadar “membantu suami”. Padahal, tanpa kerja tersebut, rantai kehidupan pertanian tidak akan berjalan sebagaimana mestinya.
Di sinilah kita perlu mulai mengubah cara pandang.Perempuan tani bukan sekedar pendamping petani. Mereka adalah bagian dari aktor pembangunan dan memiliki hak yang sama untuk mendapatkan akses terhadap tanah, pengetahuan, teknologi, modal, pasar, pendidikan, serta ruang pengambilan keputusan.
Hari Tani bukan sekadar momentum untuk mengenang jasa para petani. Ia seharusnya menjadi bahan refleksi untuk kembali mengingatkan kepada kita semua, siapa yang selama ini bekerja untuk menjaga pangan kita, siapa yang menikmati hasil pembangunan, dan siapa yang masih tertinggal di dalamnya?
Sebagai seorang perempuan yang juga lahir di daerah yang katanya hari ini adalah salah satu daerah terkaya yaitu kabupaten Morowali. Saya memandang Hari Tani dari sudut pandang yang mungkin selama ini kurang mendapatkan ruang yaitu perempuan di dalam kehidupan agraria dan pembangunan daerah.
Morowali hari ini dikenal sebagai salah satu daerah dengan perkembangan ekonomi yang sangat dinamis. Pertumbuhan industri dan investasi telah membawa perubahan besar terhadap wajah daerah.
Namun, setiap perubahan pembangunan semestinya tidak hanya diukur dari seberapa besar investasi yang masuk, seberapa banyak infrastruktur yang dibangun, atau seberapa tinggi angka pertumbuhan ekonomi.
Kita juga perlu bertanya:
Apakah perempuan Morowali memperoleh ruang yang cukup dalam perubahan tersebut?
Apakah perempuan di desa-desa memiliki kesempatan yang sama untuk meningkatkan kapasitas ekonominya?
Apakah perempuan tani mendapatkan akses yang memadai dan setara terhadap program pemberdayaan?
Dan yang tidak kalah penting ketika ruang hidup masyarakat mengalami perubahan akibat pembangunan infrastruktur dan pangan, apakah suara perempuan turut didengar dalam proses pengambilan keputusan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan bentuk penolakan terhadap pembangunan. namun sebaliknya, pertanyaan ini merupakan pengingat bahwa pembangunan seharusnya menghadirkan manfaat yang lebih luas dan tidak meninggalkan kelompok masyarakat tertentu. Sebab pembangunan yang berkelanjutan bukan hanya tentang membangun kawasan industri, jalan, gedung, atau pusat ekonomi. Pembangunan juga tentang memastikan bahwa manusia yang hidup di dalamnya memiliki kesempatan untuk berkembang secara bermartabat. EKO











