POSONEWS.ID – 26 Juli 2026 menjadi momentum penting untuk memperingati Hari Mangrove Sedunia, sebagai pengingat akan pentingnya menjaga dan melestarikan ekosistem mangrove yang memiliki peran besar bagi kehidupan manusia dan lingkungan.
Mangrove merupakan tumbuhan tropis yang hidup di kawasan pesisir pantai, muara sungai dan daerah pasang surut. Keberadaannya memiliki fungsi yang sangat penting, antara lain melindungi garis pantai dari abrasi, menjadi habitat berbagai jenis biota laut, serta menyerap dan menyimpan emisi karbon dalam jumlah yang sangat besar.
Tahukah Anda bahwa hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem dengan cadangan karbon terbesar di dunia setelah lahan gambut ? Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga kelestarian hutan mangrove sebagai bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim. Selain itu, mangrove juga memberikan berbagai manfaat bagi kehidupan masyarakat, seperti menjadi pelindung dari abrasi dan gelombang besar, penyaring air dan udara, sumber mata pencaharian masyarakat pesisir, kawasan ekowisata hingga sarana pendidikan dan penelitian.
Dalam momentum Hari Mangrove Sedunia, Albar mahasiswa asal Morowali yang menekuni bidang tersebut menegaskan bahwa, Hari Mangrove Sedunia sebagai pengingat akan pentingnya menjaga dan melestarikan ekosistem mangrove yang memiliki peran besar bagi kehidupan manusia dan lingkungan.
Mangrove merupakan tumbuhan tropis yang hidup di kawasan pesisir pantai, muara sungai dan daerah pasang surut. Keberadaannya memiliki fungsi yang sangat penting, antara lain melindungi garis pantai dari abrasi, menjadi habitat berbagai jenis biota laut, serta menyerap dan menyimpan emisi karbon dalam jumlah yang sangat besar.
Albar juga menegaskan bahwa, pelestarian mangrove harus menjadi perhatian serius seluruh elemen masyarakat maupun pemerintah. Menurutnya, salah satu tantangan terbesar dalam menjaga keberlanjutan hutan mangrove, khususnya di kawasan industri dan pertambangan adalah pembangunan Terminal Khusus (Tersus) yang dilakukan untuk mendukung aktivitas perusahaan.
Fenomena tersebut telah lama terjadi di berbagai wilayah Sulawesi Tengah, khususnya di Kabupaten Morowali. Setiap tahun, peringatan Hari Mangrove Sedunia umumnya hanya diisi dengan kegiatan seremonial yang melibatkan komunitas, perusahaan dan pemerintah. Namun, kegiatan tersebut sering kali tidak diikuti dengan langkah nyata dan berkelanjutan dalam menjaga serta memulihkan ekosistem mangrove yang mengalami kerusakan.
Albar juga menyampaikan bahwa persoalan hutan mangrove di Kabupaten Morowali dalam beberapa tahun terakhir semakin kompleks, terutama di wilayah yang berdekatan dengan aktivitas pertambangan, seperti Kecamatan Bungku Pesisir, Bahodopi, Bungku Timur, Bungku Barat, dan Wita Ponda. Di sejumlah wilayah tersebut, hutan mangrove kerap dikorbankan demi pembangunan Terminal Khusus (Tersus) dan infrastruktur pendukung industri.
Menurutnya, kerusakan mangrove yang terjadi secara masif memiliki korelasi langsung terhadap keberlangsungan kehidupan masyarakat Morowali. Hilangnya kawasan mangrove tidak hanya mengancam ekosistem pesisir dan keanekaragaman hayati, tetapi juga mengurangi kemampuan alam dalam menyerap emisi karbon. Kondisi ini diduga turut berkontribusi terhadap meningkatnya suhu udara yang semakin dirasakan masyarakat dari tahun ke tahun.
“Oleh karena itu, sudah saatnya ada perhatian dan kesadaran bersama terhadap apa yang sedang terjadi di depan mata kita. Pelestarian mangrove tidak boleh berhenti pada kegiatan simbolis semata, tetapi harus diwujudkan melalui kebijakan dan tindakan nyata,” ujar Albar.
Sebagai penutup, Albar mendesak Pemerintah Kabupaten Morowali agar memberikan perhatian yang lebih serius terhadap perlindungan dan keberlanjutan hutan mangrove, khususnya di kawasan yang berada dalam lingkar industri dan pertambangan. Menurutnya, pembangunan ekonomi harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan agar manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. EKO





