POSONEWS.ID – Banjir dengan intensitas cukup besar melanda Desa Sambalagi, Kecamatan Bungku Pesisir, pada Jumat dini hari sekitar pukul 00.30 WITA. Peristiwa tersebut mendapat perhatian serius dari kalangan pemuda setempat yang menilai banjir kali ini menjadi tanda adanya penurunan kualitas lingkungan di wilayah tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena banjir besar disebut jarang terjadi di Desa Sambalagi. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran masyarakat terhadap meningkatnya abrasi dan kerusakan lingkungan yang diduga dipengaruhi oleh aktivitas eksploitasi hutan serta pembukaan lahan untuk menunjang kepentingan industri pertambangan.
Masyarakat juga menyoroti keberadaan sejumlah perusahaan yang beroperasi di wilayah Sambalagi, termasuk PT International Green Industrial Park (IGIP), yang dinilai perlu ikut bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan yang terjadi di sekitar kawasan operasional.
Albar, selaku demisioner ketua umum IP2MM KOTA PALU meminta pemerintah daerah agar lebih serius menangani persoalan banjir yang terjadi di Desa Sambalagi. Ia menegaskan perlunya langkah konkret untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Albar juga, berharap pemerintah segera mengambil tindakan nyata dan memanggil pihak perusahaan terkait agar dapat menghadirkan langkah-langkah antisipatif terhadap banjir yang terjadi di Desa Sambalagi.
Selain meminta evaluasi terhadap dampak aktivitas industri, Albar juga mendorong adanya normalisasi drainase, rehabilitasi kawasan hutan, serta kajian lingkungan secara menyeluruh guna meminimalisasi risiko bencana di masa mendatang.
“Peristiwa banjir ini diharapkan menjadi perhatian bersama, baik pemerintah, perusahaan, maupun masyarakat, agar keseimbangan lingkungan di wilayah Bungku Pesisir tetap terjaga dan keselamatan warga dapat diprioritaskan,” harapnya
Albar, jugga menegaskan ketika banjir di desa sambalagi tidak ada perhatian khusus dari pemereintah daearah setempat dan pihak perusahan maka lingkaran konsolidasi di kalangan pemuda, mahasiswa dan masyarakat akan akan berlangsung intens dan tentu akan menghasilkan gejolak perlawanan di Desa Sambalagi, Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali.
Diakhir pernyataannya, Albar dengan tegas menolak tunduk dan menuntut tanggung jawab
“Secara tegas kami menolak tunduk, menuntut tanggung jawab,” tutup Albar. EKO





