POSONEWS.ID – Sejumlah warga Desa Korowou yang memiliki lahan bersertifikat di wilayah operasi PT. Sumber Mineral Abadi (PT SMA) kembali menyuarakan kekecewaan mereka terhadap perusahaan yang hingga saat ini diangap belum mampu menyelesaikan persoalan pembayaran ganti rugi lahan masyarakat, hingga berbuntut pada pemalangan jalan di lahan yang menjadi hak milik masyarakat, Sabtu (25/01/2025).
Seperti yang dikemukakan oleh salah satu warga pemilik lahan ibu Mormin Taungke kepada media ini. Ia mengatakan masyarakat sudah menunggu setahun untuk penyelesaian pembayaran ganti rugi.
“Kami memiliki bukti sah berupa sertifikat tanah, namun hinga saat ini perusahaan belum menunjukkan tanda-tanda untuk melakukan ganti rugi. Malah sudah merusak dan menggunakan tanah warga yang sudah bersertifikat untuk aktifitas pertambangan. Ini sangat merugikan kami,” ujar Mormin.

Demikian juga halnya dengan bapak Yusril Kayoa yang mempunyai lahan bersertifikat, juga mengancam akan melakukan aksi lanjutan jika dalam waktu dekat belum ada penyelesaian yang jelas dari pihak perusahaan.
“Warga juga mempertimbangkan untuk membawa kasus ini ke ranah hukum guna mendapatkan keadilan,” tukasnya.
Sementara itu KTT PT SMA melalui humasnya Monde Laega mengatakan bahwa akan berupaya untuk segera menyelesaikan permasalahan ini dalam waktu dekat.
“Terkait tudingan bahwa pihak perusahaan mengabaikan hak warga itu sangat keliru,” ujar Monde Laega.
Sebab menurut monde dalam penjelasannya, para pemilik lahan sudah pernah diundang ke jakarta dalam membicarakan harga bersama pihak perusahaan. Namun para pemilik lahan meminta Rp 50 ribu per meter sementara saat itu perusahaan hanya mampu membayarkan Rp 25 ribu per meter. Artinya belum diperoleh kesepakatan yang mengikat.
Lanjut Monde, usai pertemuan di Jakarta, para pemilik lahan kembali membahas persoalan tersebut di kampung. Namun dalam pertemuan tersebut, sebagian warga pemilik lahan ada yang setuju dengan angka Rp 25 ribu per meter.
“Maka pihak perusahaan langsung memberi ganti rugi kepada warga yang setuju. Sementara yang 4 orang lainnya masih bertahan di angka Rp 50 ribu per meter. Itulah yang masih terus bertahan hinga saat ini,” sebut Monde. CHEM





