PosoNews.id, Poso – Safari dakwah Isra Mi’raj 1443 Hijiriyah di Poso telah selesai. Namun, banyak ilmu yang didapatkan dari Habibana HS. Ali bin Muhammad bin Idrus bin Salim Aljufri.
Habib Ali bin Muhammad Aljufri merupakan zurriyah Rasulullah SAW ke 38, cucu dari pendiri Alkhairaat HS. Idrus bin Salim Al-Djufri atau GURU TUA.
Habib Ali termasuk ulama besar yang hidup di zaman modern ini, khususnya di Indonesia bagian Timur. banyak dakwah-dakwahnya yang menyentuh hati masyarakat yang tidak hanya dari kalangan umat Islam saja. Namun dari kalangan umat non muslim pun merasakannya.

Sehingga tidak heran bila kata-kata Habib Ali bin Muhammad Aljufri begitu memotivasi dalam setiap dakwahnya, khususnya bagi Abnaul Khairaat. Yakni, pentingnya berilmu, berahlak dan nasihat menasihati.
Olehnya kata Habib Ali, Rasulullah SAW diutus oleh Allah di muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak.
Sehingga, seseorang dikatakan muslim ketika dia beriman kepada Allah SWT serta beramal shaleh dan dia juga harus wa tawasau bil haqqi wa tawasau bissabr.
“Artinya ada hubungan antar sesama, kita bisa saling menasehati dan juga bisa mendengar nasehat dari siapapun,” kata Habib dalam setiap ceramahnya.

Habib Ali mencontohkan, seorang imam Al-Gazali yang menerima nasehat dari seorang perampok di zaman itu.
Diceritakannya, kala itu Imam Gazali bersama rombongan kafilah dirampok, seluruh barang bawaan mereka diambil tanpa ada yang tersisa.
Singkat cerita, Imam Gazali kemudian menemui kepala perampok tersebut, dengan maksud meminta kembali hartanya yang dirampas oleh anak buahnya.

Dikatakan Imam Gazali, bahwa barang yang berada didalam peti rampokan tadi itu adalah ilmu yang dimilikinya, isi peti itu tidak lain hanyalah buku buku yang berisikan tulisan.
Sontak kepala perampok itu tertawa terbahak bahak di hadapan Imam Al-Gazali. Dan berkata, “Al ‘ilmu maa fii shudur laa fissuthur”, ilmu itu adanya di dada, bukan di tulisan.
Setelah kejadian itu, kata Habib Ali, Imam Gazali tidak pernah keluar dari rumahnya selama 20 tahun, hanya untuk menghafal semua yang ia pelajari.
“Setelah belajar selama 20 tahun maka lahirlah kitabnya yang berjudul ‘Ihya Ulumuddin’ ini buku induknya tasawuf,” sebut Habib.

Dari kisah itu, Habibana Ali berpesan, jika ilmu yang dimiliki tidak menjadi karakter, maka sia-sialah ilmu itu dan hanya akan menjadi pengetahuan saja. Karena tidak sedikit orang yang berilmu banyak melakukan kejahatan.
“Ilmu dapat mengangkat rumah yang tiada tiangnya, tetapi kebodohan akan meruntuhkan rumah kemuliaan itu,” tandasnya.(*)





