Kasus Penembakan Nelayan Bungku Selatan, Ketua SDC Morowali Angkat Bicara

0
155
Ketua SDC Morowali, Kasmudin. Juga merupakan akademisi Perikanan di Unhas (Foto: IST)

PosoNews.id, Morowali- Peristiwa pnembakan terhadap nelayan Bungku Selatan beberapa hari lalu, menimbulkan banyak asumsi dari masyarakat Morowali.

Hingga saat ini, pihak Kepolisian belum dapat mengambil kesimpulan karena proses penyelidikan dan peyidikan belum rampung, termasuk meminta keterangan korban, yang saat ini masih dalam perawatan di RSUD Morowali.

Mengenai kejadian itu, Ketua Umum Sombori Dive Conservation (SDC Morowali), Kasmudin memberikan tanggapannya kepada media ini, Jum’at (5/3/2021). “Jujur saja, kurang lebih tujuh tahun kelompok masyarakat SDC Morowali yang khusus bergerak di bidang konservasi pesisir dan laut ini sangat terpukul jika memang benar nelayan yang salah tembak, barusan kasus seperti ini terjadi di Morowali, yang pasti dua hal terpenting yang harus dibedakan masyarakat dalam peristiwa ini adalah, jangan pernah samakan nelayan dengan pelaku bom ikan,” ungkapnya.

Ia mengatakan, sangat berbeda antara keduanya. “Seperti yang kita ketahui bahwa nelayan itu dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 7 tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, bahkan nelayan hari ini sudah memiliki asuransi dari BPJS Ketenagakerjaan, sebaliknya kalau pelaku penangkap ikan Destructive Fishing dan Ilegal Fishing merupakan pelaku bom ikan yang berkedok sebagai nelayan dan bisa dijerat dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan, dengan ancaman pidana penjara 5 tahun dan denda maksimal Rp 2 miliar,” jelas Kasmudin.

Dijelaskannya, Destructive Fishing merupakan praktek penangkapan ikan yang merusak dengan sengaja, yang dengan mudah mengakibatkan kerusakan permanen pada habitat dan ekosistem perairan. Banyak teknik penangkapan ikan bisa merusak jika digunakan secara tidak tepat, tetapi beberapa praktik sangat mungkin menyebabkan kerusakan permanen.

Kasmudin yang juga merupakan akademisi Perikanan Unhas itu juga mengatakan, agar turun langsung jika ingin mengetahui kondisi lapangan. “Kalau ada waktu, lebih bagusnya lagi untuk jalan-jalan di pulau-pulau sekitar Bungku Selatan dan Menui Kepulauan, bahkan yang kami ketahui sekarang ini, di seluruh Indonesia masyarakat nelayan juga resah dengan aktifitas para pelaku pengeboman ikan yang marak, jika kita jalan-jalan di Desa Pulau Tiga, disana merukapan Kelompok Kader Konservasi Binaan SDC yang sudah lama di SK-kan khusus oleh Pemda dalam hal ini Pokmaswas, mereka sering mendapati pihak pembom ikan dari luar dan bahkan mereka juga sering mengejar pelaku yang sangat meresahkan, bayangkan saja sekali bom, pelaku mampu memporak-porandakan ekosistem laut, memang sasaran mereka hanya ikan tapi banyak ekosistem terumbu karang, ikan kecil dan bioata lainya turut menjadi korban kemudharatan tersebut,” urainya.

Bom ikan kata Kasmudin, bisa memutus rantai makanan dan ekosistem laut, dimana masa pemulihannya bukan hanya dengan waktu 1-2 tahun, namun bisa mencapai puluhan hingga ratusan tahun. “Menanamnya juga bukan semudah menanam bunga atau pohon, tapi harus memiliki keterampilan khusus, kerusakan ekosistem di laut akibat Descruktif Fishing dan Illegal Fishing bukan hanya negara yang dirugikan oleh para pelaku, tapi tujuh generasi ke depan, anak cucu kita dimungkinkan tidak lagi bisa menikmati hasil laut, yang ada hanyalah kesengsaraan” jelasnya.

Data yang berhasil dikumpulkan oleh SDC Morowali dari tahun 2015 sampai saat ini lanjut Kasmudin, sudah banyak kasus yang merenggut korban nyawa pelaku bom ikan, bius dan penyelam kompresor. “Banyak pembinaan yang sering kami lakukan, sampai melakukan program aksi keliling pulau-pulau untuk memberikan pelatihan dan kampanye stop Illegal Fishing dan Destructife Fishing, memberikan solusi terhadap para pelaku bom ikan yang serius ingin kembali menjadi nelayan mencari nafkah dengan cara-cara yang ramah lingkungan, serta nenampung seluruh keluhan masyarakat nelayan untuk diteruskan ke pihak Pemda dalam hal ini Dinas Perikanan untuk segera memberikan bantuan kebutuhan para nelayan” jelasnya.

Menurutnya, sudah banyak langkah-langkah pelatihan, bimbingan yang dilakukan dan beberapa instansi terkait, bahkan sudah 4 kali pergantian Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, SDC sudah sering mengamati program bimbingan penyuluhan ke masyarakat pelaku bom ikan, sampai daftar nama-nama dan alamat pulau pelaku bom ikan juga telah disimpan untuk terus dikawal dan dibimbing agar bisa kembali menjadi pelaku usaha perikanan yang baik.

Ditegaskannya, nelayan pemancing, pukat, tambak, dan lainnya, semua itu adalah usaha mencari nafkah untuk kebutuhan hidup sehari-hari, semua bergantung terhadap alam dan rezki dari Maha Pemberi Rezki. “Olehnya itu, kami dari SDC Morowali mengutuk keras jika ada nelayan yang betul ditembak atau salah tembak dari oknum petugas, namun sebaliknya, kami tidak akan menyalahkan jika memang benar pelaku pengeboman ikan yang terkena tembakan, selama itu masih sesuai dengan SOP, sebab takdir itu mungkin didapatkan karena sudah sering diperingatkan dan diberikan bimbingan namun tetap melakukan pelanggaran mencari nafkah ingin kaya dengan cara singkat dan merusak di area konservasi” ujarnya.

Kasmudin meminta agar masyarakat tidak perlu saling mengadu domba bahkan menintimidasi pihak instansi yang jelas-jelas Undang-Undang sudah mengaturnya. “Mari kita semua menyerahkan sepenuhnya kepada pihak berwajib yang bertanggung jawab untuk menangani kasus tersebut” tandasnya. (BMG)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here