11 Hari di Pedalaman, FPI Sulteng Bangun 5 Rumah Mualaf

0
343

PosoNews.id, Poso- Program pembinaan mualaf yang terus dilakukan Front Pembela Islam Sulteng (FPI) bagi masyarakat pedalaman suku Wana terus berlanjut. Pembinaan yang telah dimulai sejak 2018 hingga saat ini, tercatat sudah puluhan Kepala Keluarga yang tergabung dalam program pembinaan.

Seperti yang dilakukan Kamis (26/11/2020). Sedikitnya 15 Laskar Pembela Islam yang di pimpin langsung Ustad Sugianto Kaimudin kembali menyusuri sungai dan hutan menuju ke pedalaman Wana dalam rangka melanjutkan pembangunan rumah mualaf.

“Setelah menyelesaikan masjid untuk para mualaf, dan menempatkan pengajar untuk anak anak mualaf pedalaman Wana, kini kami kembali ke pedalaman untuk menyelesaikan 5 rumah lagi,” ungkap Ketua FPI Sulteng Ustad Sugianto Kaimudin Jumat (11/12).

Hingga kini dalam program pembangunan untuk Mualaf pedalaman Wana telah berdiri, 1 unti Pendopo, 1 Masjid serta 10 rumah mualaf.

“Program ini akan terus berlanjut hingga terealisasinya 30 rumah mualaf di perkampungan Mualaf Hidayah Sadame,” ujar Ustad Sugianto.

Untuk mencapai lokasi masyarakat pedalaman Suku Wana, tidak sedikit kendala yang dihadapi. Berbagai kendala merintangi perjuangan saat menuju pedalaman. Diantaranya menurut Ustad Sugianto yang paling tidak bisa ditolerir yaitu ketika banjir melanda sungai, maka perjalanan menuju pedalaman Wana tidak bisa ditempuh.

“Kendati demikian kami pantang menyerah. Bahwa program peningkatan sumber daya manusia pedalaman Wana harus terus kami semarakkan walupun pelan dan alot,” ungkapnya.

Dalam bulan Desember 2020 ini FPI Sulteng menurutnya, akan membangun lagi 2 lokal bangunan sekolah yang akan diperuntukkan tempat belajar anak-anak pedalaman Wana yang sudah mencapai 50 orang lebih anak didik yang diajarkan baca tulis. Jumlah ini terus bertambah.

“Alhamdulillah anak anak didik ini juga kami telah berikan tas sekolah dan perlengkapan tulis menulis dan buku bacaan,” tambahnya.

Mereka adalah anak-anak sebaya dan seperti layaknya anak-anak yang ada di tempat lain. Butuh kasih sayang dan perhatian. Hari ini mereka sekolah dengan pakaian seadanya tanpa seragam dan sepatu. Melintasi pegunungan dan sungai untuk sampai ke sekolah yang saat ini masih menggunakan gedung saung tempat tinggal tim da’wah FPI.

“Mereka butuh sekolah agar mereka juga mengerti bahwa mereka hidup dan menghirup udara Indonesia sebagai bagian dari anak bangsa yang berpijak di tanah air Indonesia, walaupun sampai saat ini mereka belum tahu Indonesia secara utuh, dikarenakan mereka tinggal di pedalaman hutan yang hanya mengandalkan hidup seadanya,” jelas Sugianto mengisahkan.

Mereka juga mualaf yang telah di Islamkan dan sampai saat ini mereka tak punya penutup aurat bagi wanita, baju Koko bagi yang laki-laki. Namun mereka tetap gembira. Membaca dan menulis bahkan menghafal Pancasila mereka telah mahir, mengenal huruf Hijaiyah dan membacanya mereka telah paham.

“Kami terus berjuang demi menyelamatkan mereka dari stigma orang banyak bahwa mereka orang hutan. Mereka orang pedalaman, mereka orang terlupakan. Akan kami gayuh segala tenaga dan kekuatan untuk membuktikan bahwa mereka layak disebut sebagai manusia Indonesia,” pungkas Ustad Sugianto mengakhir cerita petualangan FPI Sulteng saat menempuh dan berada di wilayah pedalaman Suku Wana selama 11 hari.(LEE).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here