POSONEWS.ID – Staf Ahli Bidang Pembangunan Ekonomi dan Keuangan, Bambang S. Soerodjo, yang mewakili Bupati Morowali pada acara pembukaan Sekolah Lansia di Morowali mengatakan bahwa proses belajar tidak pernah mengenal batas usia.
Hal itu diungkapkannya pada acara pembukaan Sekolah Lansia Moroso di Kecamatan Bungku Tengah, Kabupaten Morowali, Kamis (1/10/2026).
“Hari ini bukan sekadar acara peluncuran sebuah program. Lebih dari itu, hari ini merupakan momentum untuk menegaskan bahwa proses belajar tidak pernah mengenal batas usia,” ungkapnya.
Menurutnya, sekolah bukan hanya milik anak-anak dan generasi muda. Sekolah adalah ruang untuk terus tumbuh, memperoleh pengetahuan, menjaga kesehatan, membangun persaudaraan, dan memberikan manfaat bagi kehidupan.
Tema yang diangkat pada hari ini yaitu “Belajar Sepanjang Hayat, Sehat di Usia Senja, Bermakna untuk Sesama.”
Tema ini memiliki makna yang sangat dalam. Belajar sepanjang hayat berarti bahwa selama kita masih diberikan kesempatan untuk hidup, kita selalu memiliki kesempatan untuk belajar, berkembang, dan memberikan kontribusi.
Memasuki usia lanjut bukan berarti berhenti berkarya. Justru pengalaman panjang yang dimiliki para lansia merupakan kekayaan yang sangat berharga bagi keluarga, masyarakat, dan generasi berikutnya.
“Lansia bukanlah kelompok yang harus dipandang hanya sebagai penerima perhatian. Lansia adalah bagian penting dari pembangunan masyarakat. Para lansia memiliki pengalaman hidup, pengetahuan, nilai-nilai, keteladanan, serta cerita perjuangan yang dapat menjadi pelajaran bagi generasi muda,” papar Bambang Soerodjo.
Oleh karena itu, melalui Sekolah Lansia Moroso, Pemerintah Daerah Kabupaten Morowali ingin menghadirkan ruang yang membuat para lansia tetap aktif, sehat, mandiri, produktif, bahagia, dan memiliki kesempatan untuk terus berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.
“Kita memahami bahwa bertambahnya usia membawa berbagai perubahan dalam kehidupan. Karena itu, menjaga kesehatan menjadi bagian yang sangat penting. Sekolah Lansia Moroso diharapkan dapat menjadi sarana untuk meningkatkan pengetahuan mengenai kesehatan, pola hidup sehat, kesehatan mental dan sosial, aktivitas fisik, pemenuhan gizi, serta berbagai hal yang dapat membantu para lansia menjalani kehidupan yang lebih sehat dan berkualitas,” jelasnya.
Bambang Soerodjo menegaskan bahwa sehat bukan hanya berarti tidak sakit. Sehat juga berarti memiliki semangat untuk menjalani kehidupan, memiliki hubungan sosial yang baik, merasa dihargai, memiliki kegiatan yang positif, dan tetap memiliki kesempatan untuk memberikan manfaat kepada orang lain.
“Inilah makna dari bagian ketiga tema kita, Bermakna untuk Sesama,” singkatnya.
Ia juga berharap kepada para peserta Sekolah Lansia Moroso, tidak hanya memperoleh pengetahuan untuk dirinya sendiri, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi bagi keluarga dan lingkungan.
“Bapak dan Ibu dapat menjadi teladan bagi anak-anak dan cucu-cucu. Pengalaman hidup yang panjang dapat menjadi nasihat. Kearifan yang dimiliki dapat menjadi pedoman. Dan semangat yang ditunjukkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda,” tandasnya.
Lanjutnya, Pemerintah Kabupaten Morowali akan terus mendorong berbagai program yang mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat, termasuk masyarakat lanjut usia. Pembangunan tidak hanya berbicara tentang infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Pembangunan juga berbicara tentang manusia, kesehatan, kebahagiaan, kepedulian, dan kualitas kehidupan masyarakat.
Olehnya itu, keberadaan Sekolah Lansia Moroso merupakan bagian dari semangat kita untuk membangun masyarakat Morowali yang sehat, mandiri, inklusif, dan saling peduli.
“Saya juga mengajak seluruh pihak pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, dunia pendidikan, organisasi masyarakat, dunia usaha, dan masyarakat luas untuk bersama-sama memberikan dukungan terhadap keberlangsungan program ini. Mari kita ciptakan lingkungan yang ramah lansia. Mari kita berikan ruang kepada para lansia untuk tetap aktif. Mari kita dengarkan pengalaman dan aspirasi mereka. Dan yang tidak kalah penting, mari kita pastikan bahwa para lansia tetap merasa dihargai, dicintai, dan dibutuhkan,” tutupnya. DRM











