Perayaan HUT Kecamatan Bahodopi Tuai Kritikan: Minim Partisipasi Warga Lokal

0
10
- Advertisement -

POSONEWS.ID -:Puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kecamatan Bahodopi yang berlangsung 1-5 Mei menuai sorotan tajam dari sejumlah kalangan. Pasalnya, kegiatan tersebut dinilai terkesan dipaksakan, tidak melibatkan tokoh masyarakat setempat, dan menghamburkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan.

Kritik tajam tersebut dilontarkan oleh Asrar, salah satu pemuda asli Bahodopi yang juga merupakan mantan Ketua Umum Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Kabupaten Morowali (IP2MM) tahun 2024 ini menyatakan sikap menolak keras format perayaan HUT yang baru saja digelar tersebut. Menurutnya, acara itu dilaksanakan secara mendadak tanpa ada ruang partisipasi bagi warga lokal.

“Kegiatan ini dilakukan secara tiba-tiba. Tahu-tahu sudah ada acara. Pelaksanaannya sama sekali tidak melibatkan tokoh-tokoh yang ada di Kecamatan Bahodopi, termasuk kami dari kalangan pemuda-pemudi. Kami di daerah sendiri seolah hanya dijadikan penonton,” ujar Asrar kepada awak media.

Selain masalah keterlibatan warga, Asrar juga menyoroti kucuran dana CSR dari kawasan industri yang diduga memakan biaya sangat fantastis demi membiayai perayaan tersebut. Ia menilai, menghabiskan anggaran besar untuk kegiatan seremonial adalah bentuk ketidakpekaan terhadap kondisi riil masyarakat lingkar tambang.

Menurut Asrar, di tengah pesatnya investasi, masih banyak persoalan mendasar di Bahodopi yang tak kunjung diselesaikan dan membutuhkan penanganan segera.

“Informasi yang kami dapatkan, dana CSR yang dikucurkan untuk acara ini sangat fantastis. Sementara di luar sana, banyak hal-hal urgen yang perlu diperhatikan secara serius. Misalnya masalah infrastruktur yang masih buruk dan kurangnya pemberdayaan ekonomi untuk masyarakat asli. Hal-hal seperti ini jauh lebih penting dibanding kegiatan yang sifatnya hanya seremonial semata,” tegasnya.

Lebih lanjut, Asrar menyayangkan hilangnya esensi dari peringatan hari jadi daerah. Ia mengingatkan bahwa peringatan tanggal 30 April seharusnya menjadi momentum sakral bagi masyarakat.

“HUT itu bukan hanya kegiatan hura-hura yang dilakukan begitu saja lalu selesai. Ini adalah ajang untuk merefleksi sejarah. Sejarah daerah kita ini harus dipertahankan dan diingat, bukan ditutupi dengan acara hiburan sesaat,” jelas Asrar.

Meski melontarkan kritik keras, Asrar menegaskan bahwa dirinya tetap mengapresiasi kinerja panitia penyelenggara. Kritik ini murni sebagai bentuk pengingat, bukan untuk saling menyalahkan.

“Kita tidak saling menyalahkan, tapi sebatas mengingatkan. Sebagai putra asli Kecamatan Bahodopi, mari kita bangun komunikasi yang baik, silaturahmi, dan persaudaraan yang erat. Sekiranya ke depan rekan-rekan panitia bisa menginisiasi adanya pertemuan dalam satu forum untuk membahas kegiatan, agar semua pihak dapat berpartisipasi,” pungkas Asrar seraya mendesak pemerintah kecamatan dan perusahaan agar lebih memprioritaskan program yang bersentuhan langsung dengan hajat hidup orang banyak. EKO