Karena Bibitnya Mahal, Petani Touna Belum Saatnya Budidaya Tanaman Porang

0
241
Budidaya tanaman Porang

TOUNA, POSONEWS – Ajakan Menteri Pertanian RI Sahrul Yasin Limpo kepada para petani untuk menanam porang dan membuat sarang walet agaknya tak dapat disanggupi para petani di Kabupaten Tojo Unauna, Sulteng.

Pasalnya para petani diwilayah bagian timur Sulawesi Tengah itu umumnya petani kelas menengah ke bawah. Sehingga tak punya modal kuat untuk menggarap lahan hingga menanam porang. Apalagi membuat sarang burung walet.

Menurut Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangaan Pemda Touna Muh. Nur Rahmat Mentan RI telah mencanangkan program unggulan bagi para petani di Indonesia, untuk budidaya porang dan sarang walet, karena nilai jual dua komuditi itu tengah naik dipasar internasional.

“Memang permintaan ekspor porang dan sarang walet sangat tinggi. Tapi apa daya, harga bibit porang saja cukup mahal, apalagi mau bangun sarang walet,” jelas Nur Rahmat, saat ini harga bibit porang per satu kilogramnya mencapai Rp250 ribu sampai Rp300 ribu.

Padahal struktur tanah di Touna sangat cocok bagi tanaman porang. “Kita di Touna memiliki lahan pertanian cukup luas dan struktur tanah yang subur untuk tanaman porang,” beber Nur Rahmat awal Juli 2021 lalu.

Apalagi kata dia, varietas bibit porang yang direkomendasikan baru yang dari Madiun. “Setahu saya baru satu varietas bibit porang dari Madiun ini yang tembus pasar ekspor, dan harga bibitnya cukup mahal,” jelasnya.

Dia berharap jika Kementan RI bisa menyediakan pengadaan bibit porang ini, maka pihaknya akan menyiapkan lahan.

Porang atau dikenal juga dengan nama iles-iles adalah tanaman umbi-umbian dari spesies Amorphophallus muelleri. Manfaat porang ini banyak digunakan untuk bahan baku tepung, kosmetik, penjernih air,.

Selain juga untuk pembuatan lem dan “jelly” yang beberapa tahun terakhir kerap diekspor ke negeri Jepang. Umbi porang banyak mengandung glucomannan berbentuk tepung. Glucomannan merupakan serat alami yang larut dalam air biasa digunakan sebagai aditif makanan sebagai emulsifier dan pengental, bahkan dapat digunakan sebagai bahan pembuatan lem ramah lingkungan dan pembuatan komponen pesawat terbang.

Tanaman porang memiliki nilai strategis untuk dikembangkan, karena punya peluang yang cukup besar untuk diekspor. Catatan Badan Karantina Pertanian menyebutkan, ekspor porang pada tahun 2018 tercatat sebanyak 254 ton, dengan nilai ekspor yang mencapai Rp 11,31 miliar ke negara Jepang, Tiongkok, Vietnam, Australia dan lain sebagainya.

Umbi porang saat ini masih banyak yang berasal dari hutan dan belum banyak dibudidayakan. Ada beberapa sentra pengolahan tepung porang saat ini, seperti di daerah Pasuruan, Madiun, Wonogiri, Bandung serta Maros. CND

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here