POSONEWS.ID – Pesatnya perkembangan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Kecamatan Bahodopi membawa dua sisi bagi sektor pertanian.
Alih fungsi lahan ke industri dan pertambangan terus mengurangi areal tanam. Namun di sisi lain, lonjakan jumlah penduduk dan tenaga kerja membuka pasar pangan lokal yang sangat besar.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat padi masih menjadi komoditas pangan utama Kabupaten Morowali. Produksi 2023 sebesar 26.389 ton, meningkat menjadi 29.818 ton di 2024, lalu 28.902 ton di 2025. Hingga Juni 2026, capaian sudah 13.708 ton.
Selain padi, Morowali memiliki potensi besar di perkebunan dan hortikultura. Kelapa sawit, pala, cengkeh, kelapa, buah, dan sayur dinilai mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dan ribuan pekerja IMIP.
Secara provinsi, Sulawesi Tengah justru mencatatkan surplus pangan. Produksi padi 2025 mencapai 904.461 ton Gabah Kering Giling (GKG) atau setara 528.179 ton beras. Surplus beras mencapai 233.706 ton, sehingga mampu mendukung ketahanan pangan daerah industri.
Sektor pertanian masih dihadapkan pada tiga tantangan utama. Perubahan iklim membuat musim tanam sulit diprediksi. Alih fungsi lahan terus terjadi. Kerusakan jaringan irigasi di sejumlah wilayah juga menekan produktivitas petani.
Di Kecamatan Bahodopi, kebutuhan pangan meningkat signifikan seiring bertambahnya tenaga kerja dari berbagai daerah. Kondisi ini menjadi peluang bagi petani lokal untuk memasok beras, sayuran, buah, dan bahan pangan lain.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah merespons melalui Program BERANI Panen Raya. Program ini mencakup benih unggul, perbaikan irigasi, bantuan alsintan, pertanian ramah lingkungan, hingga pembinaan petani milenial.
“Untuk wilayah Bahodopi, pengembangan pertanian lebih diarahkan pada budidaya hortikultura, sayuran cepat panen, pemanfaatan pekarangan, serta penguatan kerja sama pemasaran dengan pelaku usaha dan kawasan industri,” jelas Sitti Zulfahmi Abdullah, SP, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulteng.
Keberadaan IMIP diharapkan dapat mendukung pertanian melalui program CSR. Bentuk dukungan meliputi bantuan sarana produksi, alat pertanian, pelatihan petani, hingga pembukaan akses pemasaran hasil pertanian warga sekitar.
Pemerintah juga memperkuat akses permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) Pertanian, bantuan benih, pupuk, serta teknologi pertanian adaptif iklim.
Berdasarkan Satu Data Morowali 2025, jumlah petani di Bahodopi tercatat 74 orang. Angka ini relatif kecil dibanding kecamatan sentra pertanian seperti Witaponda dan Bumi Raya.
“Meski jumlahnya relatif sedikit dibandingkan kecamatan lain yang menjadi sentra pertanian, sektor ini tetap memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan pangan di tengah pesatnya perkembangan industri,” ungkap Sitti Zulfahmi.
Kontribusi pertanian terhadap PDRB Kabupaten Morowali memang lebih kecil dibanding industri pengolahan dan pertambangan. Namun, sektor ini tetap strategis karena menjaga ketahanan pangan, menciptakan lapangan kerja di pedesaan, serta memenuhi kebutuhan masyarakat dan ribuan pekerja di kawasan industri.
Dengan dukungan pemerintah, petani, dan perusahaan di kawasan IMIP, sektor pertanian Morowali diharapkan mampu berkembang berkelanjutan dan menjadi salah satu penopang ketahanan pangan di daerah yang terus tumbuh sebagai kawasan industri nasional. (*/ EKO)





