Pasca Banjir Bahoruru–Matansala, Warga Minta Pemerintah Perhatikan Kapasitas Sungai dan Drainase Yang tak Lagi Memadai

0
4
- Advertisement -

POSONEWS.ID – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Bungku Tengah, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, pada Minggu sore (25/5/2026), memicu banjir di Desa Bahoruru dan Desa Matansala. Sejumlah rumah warga yang berada di sisi barat Jalan Trans Sulawesi terendam air meski hujan berlangsung hanya sekitar tiga jam.

Peristiwa ini menjadi perhatian masyarakat karena kawasan tersebut selama bertahun-tahun relatif aman dari genangan. Banyak warga menilai banjir kali ini bukan semata-mata disebabkan oleh tingginya curah hujan, melainkan juga dipengaruhi oleh berkurangnya kapasitas sistem aliran air di kawasan tersebut.

Salah seorang warga Desa Bahoruru, Hadi, menilai titik kritis berada pada pertemuan dua anak sungai di bagian hilir desa yang saat ini tidak lagi mampu menampung volume air saat hujan deras.

“Perlu ada pelebaran di bagian pertemuan dua anak sungai di bagian bawah. Volume air dari atas harus bisa langsung mengalir ke bawah tanpa hambatan,” ujarnya.

Menurut warga, aliran air dari daerah hulu membawa debit yang cukup besar ketika hujan turun. Namun, saat kapasitas sungai tidak lagi memadai, air meluap dan masuk ke kawasan pemukiman yang berada di sekitar bantaran aliran.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, sistem aliran sungai di Bahoruru dan Matansala terdiri atas beberapa anak sungai yang bermuara pada satu titik sebelum menuju wilayah hilir. Kondisi sungai yang berkelok, ditambah minimnya tanggul pengaman di sejumlah lokasi, menyebabkan air mudah meluap ketika debit meningkat secara tiba-tiba.

Selain faktor sungai, warga juga menyoroti keberadaan Jalan Trans Sulawesi yang membelah kedua desa. Pada beberapa titik, median beton jalur dua jalan nasional tersebut dinilai belum dilengkapi saluran penghubung yang memadai antara sisi barat dan timur jalan.

Akibatnya, limpasan air dari kawasan permukiman dan lahan di sisi barat tertahan sehingga tidak dapat mengalir secara optimal. Kondisi ini membuat badan jalan berfungsi layaknya tanggul yang menghambat pergerakan air dan menyebabkan genangan terkonsentrasi di wilayah dengan elevasi lebih rendah.

Warga menilai kapasitas drainase yang ada saat ini juga sudah tidak sebanding dengan volume air yang datang dari daerah tangkapan hujan di bagian hulu. Dalam kondisi hujan berintensitas tinggi, saluran yang sempit dan sedimentasi yang terjadi selama bertahun-tahun membuat aliran air tidak mampu mengalirkan debit secara maksimal.

Untuk mengurangi risiko banjir di masa mendatang, masyarakat mengusulkan sejumlah langkah penanganan, mulai dari pelebaran titik pertemuan dua anak sungai, normalisasi dan pengerukan sungai secara berkala, pembangunan tanggul pada titik rawan luapan, hingga pemasangan gorong-gorong atau pipa penghubung di bawah median Jalan Trans Sulawesi agar aliran air dapat bergerak lebih lancar.

Di sisi lain, warga juga mengingatkan pentingnya menjaga kawasan daerah aliran sungai dari sampah dan sedimentasi. Pembuangan sampah ke badan sungai dinilai mempercepat penyumbatan saluran air, sementara keberadaan vegetasi dan kawasan mangrove di wilayah pesisir perlu dipertahankan karena berfungsi sebagai penyangga alami sistem hidrologi.

Banjir yang terjadi di Bahoruru dan Matansala menunjukkan bahwa risiko bencana hidrologi tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi berbagai faktor yang berlangsung dalam jangka panjang.

Perubahan tutupan lahan di daerah hulu, berkurangnya kapasitas sungai dan drainase, sedimentasi, hingga desain infrastruktur yang belum sepenuhnya mengakomodasi aliran air permukaan dapat saling memperburuk kondisi saat hujan lebat terjadi.

Karena itu, warga berharap pemerintah segera melakukan kajian teknis secara menyeluruh untuk mengidentifikasi penyebab utama banjir serta menyusun langkah penanganan yang berbasis data. Kajian tersebut diharapkan melibatkan instansi terkait, termasuk Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Morowali, pemerintah desa setempat, serta pihak teknis pengelola sumber daya air, sehingga solusi yang dihasilkan tidak hanya bersifat darurat, tetapi mampu mengurangi risiko banjir secara berkelanjutan bagi masyarakat Bahoruru dan Matansala. DRM

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini