POSONEWS.ID – Ketua Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sulawesi Tengah, Renaldi Kuamas, angkat suara atas meninggalnya seorang pasien pascabedah amandel di RSUD Kolonodale, Morowali Utara. Kejadian itu menurutnya menunjukkan adanya dugaan keterlambatan dalam respons medis yang wajib dicermati.
Pasien yang diketahui bernama Saharudin “Rudin” Landoala (22), warga Desa Tiu, Kecamatan Petasia Barat, meninggal dunia pada Minggu, (15/2/2026) setelah beberapa hari menjalani perawatan intensif pascaoperasi amandel di rumah sakit tersebut. Keluarga mengungkapkan sejumlah tanda tanya terkait durasi operasi yang dianggap tidak biasa dan penanganan pascaprosedur yang dinilai kurang cepat.
Dalam pernyataannya, Renaldi menyatakan bahwa organisasi yang dipimpinnya prihatin atas kejadian itu. Menurut Renaldi, jika benar terdapat kelambatan dalam merespons kondisi kritis pasien setelah operasi, maka hal itu mencerminkan masalah serius dalam penerapan prosedur layanan kesehatan yang semestinya cepat dan tepat. Ia menekankan pentingnya standar operasional prosedur yang profesional dalam setiap tindakan medis, terutama pada situasi pascarawat.
Renaldi juga menyerukan agar pihak berwenang melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan di rumah sakit tersebut serta menuntut transparansi kepada publik terkait proses medis yang terjadi, termasuk apakah ada pelanggaran standar dalam memberikan penanganan kepada pasien.
Sebagai tindak lanjut, HMI Badko Sulteng meminta adanya audit independen dan keterbukaan informasi dari manajemen rumah sakit. Organisasi mahasiswa ini menyatakan akan mengawal kasus ini sampai terang benderang demi kepastian hukum dan keselamatan pasien di masa mendatang.
Sementara itu, manajemen RSUD Kolonodale menyatakan tindakan medis telah dilakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku dan telah menjelaskan kronologi perawatan kepada keluarga serta masyarakat sebagai bentuk keterbukaan informasi. EKO





