Mitigasi Bencana Masuk Ruang Diskusi Kolaborasi Lembaga dan Lintas Organisasi

0
48
- Advertisement -

POSONEWS.ID – Isu mitigasi bencana dan pelestarian lingkungan menjadi sorotan serius dalam dialog bertajuk “Membangun Kesadaran Pemuda untuk Mitigasi Bencana dan Pelestarian Alam” yang digelar di Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Poso.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Yayasan Panorama Alam Lestari (Y.PAL), STAI Poso, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), CIDeP, Green Youth Movement, pemuda lintas organisasi serta puluhan mahasiswa.

Fadhil Abdullah Panapa narasumber utama dari Y.PAL memaparkan secara detail tentang potensi ancaman bencana, baik yang bersumber dari alam maupun non-alam.

Ia menekankan pemahaman mitigasi tidak bisa terlepas dari kerangka hukum yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Terdapat tiga pilar utama penanggulangan bencana, yaitu pemerintah, masyarakat, dan lembaga usaha.

“Ketiga komponen ini tidak boleh berjalan sendiri-sendiri, melainkan harus saling melengkapi,” ujar Fadhil di hadapan peserta dialog.

Lebih lanjut, Fadhil menjelaskan tentang konsep risiko bencana yang terdiri dari tiga unsur penting. Yakni, ancaman bencana, kerentanan masyarakat dan kapasitas daerah dalam menghadapinya.

“Risiko bencana tidak hanya ditentukan oleh kuat atau lemahnya ancaman, tetapi juga tingkat kesiapan suatu komunitas. Upaya pencegahan sejak dini jauh lebih efektif dibandingkan hanya berfokus pada penanganan saat bencana sudah terjadi,” jelasnya.

Selain itu, kata dia, mitigasi bencana memiliki dua bentuk, yaitu mitigasi struktural yang berkaitan dengan pembangunan fisik dan non-struktural lebih pada upaya meningkatkan kesadaran.

Olehnya, Fadhil mengingatkan, meskipun Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan gempa bumi belum dapat diprediksi secara akurat, masyarakat tetap perlu mempelajari sejarah kejadian gempa di wilayah tertentu, termasuk perhitungan siklus ulangan gempa.

“Karena, hal itu penting untuk memperkirakan potensi ancaman dan menyiapkan langkah mitigasi sejak dini,” tukasnya.

Aktivis sosial Sulawesi Tengah, Budiman Maliki menambahkan, pentingnya peran pemuda sebagai garda terdepan dalam gerakan pelestarian alam sekaligus mitigasi bencana. Keterlibatan generasi muda menjadi kunci dalam membangun budaya sadar bencana di tingkat akar rumput.

“Anak muda harus menjadi agen perubahan. Mereka bukan hanya pewaris lingkungan, tetapi juga aktor penting dalam memastikan bahwa mitigasi bencana menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari,” tambah Budiman.

Sementara itu, Wakil Ketua III STAI Poso, Dr. Ibrahim Ismail, S.Ag., M.H.I menyampaikan, bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk menanamkan kesadaran kebencanaan dan pelestarian alam kepada mahasiswa.

“STAI Poso berkomitmen menjadi ruang belajar sekaligus ruang aksi. Kami berharap kolaborasi ini dapat memperluas jejaring sekaligus memperkuat kapasitas generasi muda dalam menghadapi tantangan bencana dan isu lingkungan,” pungkasnya.

Kegiatan diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif, di mana mahasiswa dan peserta lainnya memberikan pandangan serta menanyakan strategi praktis dalam mengimplementasikan mitigasi bencana di lingkungan sekitar.