Ratusan Warga Lingkar Tambang Poboya Kepung Kantor PT CPM, Tagih Janji dan Tuntut Hak Ulayat

0
109
- Advertisement -

POSONEWS.ID, PALU – Ratusan warga yang mengatasnamakan diri sebagai Aliansi Masyarakat Lingkar Tambang Poboya mendatangi kantor PT Citra Palu Minerals (CPM), Kamis (12/2/2026). Aksi ini dipicu kekecewaan warga yang menilai perusahaan tidak memberi ruang bagi masyarakat untuk terlibat dalam aktivitas penambangan di wilayah lingkar tambang, sebagaimana kesepakatan yang sebelumnya dibangun.

Aksi unjuk rasa diawali dengan titik kumpul massa di pertigaan Watumurangga, Poboya. Sekitar pukul 13.50 Wita, massa yang dipimpin Koordinator Lapangan (Koorlap) Amir Sidik bergerak menuju kantor PT CPM dan langsung menggelar mimbar orasi.

Dengan membawa spanduk serta kendaraan yang dilengkapi pengeras suara, massa menyuarakan berbagai tuntutan. Sejumlah tulisan yang terbentang di antaranya berbunyi: “Penciutan harga mati tambang untuk rakyat”, “Kembalikan hak tanah ulayat adat kami”, “Usut tuntas limbah PT CPM”, “Tanah kali bukan untuk dirusak”, “Bapak Presiden, tanah ulayat kami mau dirampas Agus Projo”, hingga “Anda berada di wilayah ulayat tanah adat kami, bersama kita pertahankan sampai titik darah penghabisan.”

Dalam orasinya, massa secara tegas menuntut PT CPM angkat kaki dari “Bumi Tadulako”. Mereka juga mendesak perusahaan mendukung masyarakat terkait penciutan lahan, serta menunggu kepastian proses pengajuan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) sesuai ketentuan melalui pemerintah daerah dan DPRD.

Warga mengaku kecewa atas hasil pertemuan antara pihak PT CPM dan perwakilan masyarakat lingkar tambang yang digelar di Hotel Grand Sya pada 5 Februari 2026 lalu. Menurut mereka, hingga kini tidak ada kepastian atas tuntutan yang telah disampaikan dalam pertemuan tersebut.

Kepada awak media, Koorlap aksi Amir Sidik menegaskan, aksi ini merupakan akumulasi kekecewaan warga akibat janji perusahaan yang tak kunjung direalisasikan.

“Aspirasi yang kami bawa hari ini adalah dampak dari tidak dipenuhinya tuntutan yang sebelumnya telah dijanjikan PT CPM,” tegas Amir.

Ia juga menyebut masyarakat merasa tertipu karena perusahaan dinilai tidak bertanggung jawab dan seolah lepas tangan terhadap komitmen yang telah dibangun. Bahkan, menurutnya, lembaga adat turut merasa dihina lantaran permintaan terkait hak ulayat warga Poboya dan lingkar tambang tak diindahkan.

Sempat terjadi ketegangan antara massa dan aparat pengamanan di lingkungan PT CPM. Namun situasi berhasil dikendalikan setelah koordinator lapangan mengimbau massa untuk tetap tertib. Ketegangan pun perlahan mereda.

Hingga berita ini diturunkan, aksi unjuk rasa masih berlangsung. Sebagian massa terlihat melakukan konsolidasi di depan sebuah warung makan Gorontalo untuk membahas agenda lanjutan yang akan ditempuh.(**/WI)