PT IMIP, Hilirisasi Nikel Morowali yang Mendunia

0
Foto: Salah satu hasil akhir produksi pembuatan baja dalam bentuk gulungan di PT. ITSS (Rusli Suwandi)
- Advertisement -

POSONEWS.ID – Kebutuhan nikel dunia saat ini terus mengalami pertumbuhan secara signifikan. Tak heran jika investasi ini makin seksi dan banyak dilirik para investor. Baik lokal maupun mancanegara. Di Indonesia salah satu perusahaan nikel terbesar saat ini yang nilai produksinya terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun adalah PT. Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).

Tak hanya investasi dan nilai produksi yang terus meningkat dari tahun ke tahun, luas areal perusahaan juga terus dikembangkan seiring dengan jumlah investor yang terus tumbuh. Saat ini luas areal industri yang berada dibawah naungan PT. IMIP melebihi 20 ribu hektar. Luasan ini terus dikembangkan dengan target mencapai 40 ribu hektar hingga 2030 mendatang.

PT.IMIP sendiri berlokasi di Desa Futufia Kecamatan Bahodopi Kabupaten Morowali, Sulteng, atau sekitar 53 km dari Ibukota Kabupaten di Bungku. Bahodopi sebagai wilayah yang berada di kawasan lingkar perusahaan tak pernah sepi dari aktifitas.

Maklum, IMIP hingga saat ini telah memperkerjakan sedikitnya 80.000 karyawan dari berbagai daerah di Indonesia. Jumlah itu belum termasuk para pekerja kontstruksi yang jumlahnya mencapai 19 hingga 20 ribu. Praktis total tenaga kerja di IMIP bisa mencapai 100 ribu orang. Tak heran jika aktfitas di wilayah ini terus bergerak tak pernah tidur selama 24 jam sehari.

- Advertisement -

IMIP Bukan Pertambangan Melainkan Industri Pengolahan Nikel

Banyak orang yang salah dalam berasumsi terkait keberadaan dan aktifitas PT.IMIP di Morowali. Hal itu terungkap dalam Forum Group Discusion (FGD) yang digelar PT.IMIP dengan para jurnalis Kamis (7/3/2024) yang berlokasi di Wisma Tsingshan. Dalam kesempatan itu, Direktur Operasional PT.IMIP Irsan Widjadja memaparkan IMIP bukanlah perusahaan pertambangan yang menggali kandungan material yang mengandung nikel kemudian dijual dalam bentuk bahan mentah.

Foto: Sejumlah pimpinan media di Sulteng foto bersama jajaran Direktur PT.IMIP (Rusli)

“IMIP adalah kawasan industri pengolahan bahan mentah menjadi bahan baku yang didalamnya terdapat 54 tenant untuk selanjutnya diekspor dalam bentuk bahan baku. Inilah wujud hllirisasi nikel yang dilakukan PT.IMIP,” kata Irsan Widjadja yang didampingi Direktur Komunikasi Emilia Bassar dan Direktur Environment dan CSR Dermawati.

Didalam areal IMIP tidak ada pertambangan. IMIP sendiri membeli ore nikel dari perusahaan diluar kawasan yang mengantongi izin usaha pertambangan (IUP). Ada yang dari Banggai dan juga Kendari, termasuk beberapa pertambangan lokal.

“Bahan baku yang telah diolah ini kemudian yang diekspor ke negara Eropa, Amerika dan sebagian besar ke China. Ada yang dijadikan bahan baku pembuatan kereta api, kapal dan ada pula untuk bahan bahan rumah tangga dan alat kesehatan,” sebut Kepala Departemen Media Relation PT.IMIP Dedy Kurniawan kepada Posonews.

Lebih Dekat Dengan IMIP

Untuk melihat aktifitas perusahaan yang terintegrasi dari dekat, managemen PT. IMIP kemudian mengundang sejumlah pimpinan media di Sulteng dalam agenda media tour yang dikemas dengan tajuk “Kreativitas Menuju Penyampaian Informasi Terintegritas”.

Selama dua hari berada dalam kawasan indutri PT. IMIP, puluhan jurnalis diajak untuk berkeliling mengitari area industry nikel tebesar di Asia Tenggara itu yang dialamnya terdapat 54 tenant dengan beragam hasil produksi.

Foto: Ruang kontrol PT.ITSS (Rusli)

Sebagai holding company, PT. IMIP mengelola kawasan industri berbasis nikel yang terintegrasi dengan produk utama berupa nikel, stainless steel dan carbon steel. Industri pendukungnya terentang dari pabrik mangan, silikon, chrome, kapur, kokas. Serta ditunjang fasilitas lainnya berupa pelabuhan laut yang ada di dua lokasi yakni di Desa Futufia dan Desa Labota serta bandara khusus hingga coal power plant pembangkit listrik berkapasitas 5.319 MW yang telah beroperasi dan 1.520 MW yang dalam tahap pembangunan.

Salah satu tenant perusahaan yang dikunjungi para jurnalis adalah PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS) yang mengolah biji nikel dengan metode RKEF. Di lokasi ini para jurnalis dibawah ke ruangan kontrol yang seluruh pekerjanya adalah wanita lokal dan asing yang bekerja didepan komputer mengawasi operasional pengolahan biji nikel hingga menghasilkan crude nikel pig iron (NPI).

Foto: Ruang kontrol PT.ITSS (Rusli)

Selain melihat dari dekat aktifitas PT.ITSS, rombongan selanjutnya diajak melihat beberapa aktifitas perusahaan lain seperti pabrik pembuatn baja nirkarat di PT Indonesia Guang Ching Nickel (GCNS). Lalu ke PT Indonesia Ruipu Nickel And Chrome Alloy (IRNC) dan PT Huayue Nickel Cobalt yang memperoduksi bahan baku baterai lithium dan terakhir ke PT.QMB New Energy Material yang didlamnya juga terdapat museum nikel.

IMIP Menembus Pasar Nikel Dunia

PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) merupakan perusahaan industri nikel terbesar di Asia Tenggara yang sejak 2018 menguasai pangsa pasar sebesar 50 persen dari produksi hilir di Indonesia, yang produksinya telah menembus pasar dunia Eropa, Amerika dan Asia khususnya China.

Indonesia saat ini mampu memproduksi kebutuhan nikel lebih dari 1,6 juta metrik ton terbesar di dunia dan disusul Filipina dengan produksi sebesar 330.000 metrik ton, diikuti Rusia yang mampu memproduksi sebanyak 220.000 metrik ton.

Foto: PT. Huayue Nickel Cobalt yang memperoduksi bahan baku baterai lithium (Rusli)

Sebagai sebuah perusahaan yang berskala besar, PT IMIP memiliki visi misi untuk menjadikan kawasan industri yang terintegrasi, nyaman, kompetitif dan berwawasan lingkungan.

Dalam laporan yang disampaikan Direktur Operasional PT.IMIP Irsan Widjadja, smelter nikel pertama yakni PT. Sulawesi Mining Investment diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 29 Mei 2015. Setahun kemudian, pabrik baja nirkarat PT. GCNS sudah berhasil meluncurkan produksi perdananya. Dua tahun setelahnya, tepatnya tahun 2018, IMIP berhasil memproduksi Stainless Steel Cold Rolled Coil (SS-CRC) pertamanya.

Foto: Sebagian bahan baku yang dihasilkan dari hasil pengolahan industri salah satu tenant PT.IMIP

Selanjutnya pada tahun 2020, pabrik baja karbon mulai berproduksi dan pada tahun 2022 lalu, IMIP juga telah berhasil memproduksi bahan baku baterai Nickel Cobalt Hidroksida melalui PT Huayue Nickel Cobalt dengan kapasitas produksi mencapai 70.000 ton nikel kobalt/tahun. Langkah ini juga diambil sebagai bagian dari upaya untuk mendukung program hilirisasi dari pemerintah Indonesia yang mulai menyatakan kesiapan memasuki era kendaraan listrik di tanah air. ULY

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini